12/17/2017

Golongan Ke-Dua


Kalau kalian membaca postingan saya sebelumnya tentang manusia yang bergolong-golong berdasarkan kartu undangan yang diperoleh, maka dengan sangat percaya diri dan percaya Tuhan YME saya mengklaim bahwa saya termasuk golongan kedua. Hehe.. Menjadi yang tengah memang posisi aman, netral, terhindar dari “paling” atau “ter”... Walaupun pada uji angket, jawaban netral tidak akan dimunculkan karena tidak akan berpengaruh pada hitugan statistik (netral bernilai nol).

Menjadi golongan dua memang lebih rendah risikonya dibandingkan golongan pertama, tapi bukan berarti tanpa risiko. (Entah kenapa saya menyebut hal-hal begini sebagai risiko). Apa saja risikonya?

Pertama, outfit. Kondangan bagi saya, adalah kegiatan sosial yang harus dihormati (dan diagungkan?). Pergi kondangan tidak bisa asal saja, apalagi kalau kalian sudah bekerja di salah satu instansi yang orang banyak kenal. Ya, nama instansi dipertaruhkan oleh penampakan kita saat pergi kondangan. Penampakan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak mungkin lagi kondangan pakai celana jeans (yg belel), atau pakai sepatu anti air merk buaya (a.k.a Crocs). Perempuan pakai kebaya (atau minimalnya kain/rok) dan laki-laki? Owshit. Mode outfit laki-laki sekarang banyak yang santai tapi tetap kasual. Pakai kemeja dan celana pendek juga jadi. Oleh karena itu, saya, yang diintimidasi oleh mama saya, selalu menjahit baju setiap dapat undangan pernikahan. Karena, bagi saya, yang diaamiini oleh mama saya dengan terpaksa, memakai baju yang sama pada acara kondangan yang berdekatan itu adalah dosa. Dosa besar! Wkwkwk. Biasanya saya diskriminatif. Kalau acara kondangannya di rumah dan diselenggarakan sederhana, saya masih bisa datang dengan bercelana ria (Horeee) dengan makeup tipis-tipis. Tapi kalau di gedung dan mewah, saya pakai kain atau kebaya dengan makeup tipis-tipis (Tetep).

Nah, outfit kebaya atau kain yang gak simple inilah yang melahirkan risiko berikutnya yaitu kendaraan. Kalian tentu bisa membayangkan apa jadinya kalau saya mengendarai si Jupri dengan pakaian kebaya? Paling-paling roknya sobek, atau minimal saya gulung sampai paha. Tentu saja gak mungkin. Paha saya terlalu jelek buat dipamerin. Oleh karena itu, saya harus memesan taxi online atau nebeng ke teman yang bawa mobil, hehe. Bolak-balik, pulang-pergi.

Dua hal tadi akan dipandang sebagian orang berlebihan untuk sebuah ritual kondangan saja. Awalnya saya peduli, dan uring-uringan kepikiran seharian. Tapi akhirnya saya sadar (setelah disadarkan oleh teman, sebut saja Rizky) bahwa hal tersebut menjadi wajar-wajar saja asal sesuai kemampuan, utamanya budgeting. Lagipula, dibutuhkan pengorbanan untuk memberi penghormatan kepada orang lain. Eaaaa Hahahhaha. Menurut hemat saya, zaman sekarang, suksesnya acara pernikahan dilihat dari berapa banyak akun instagram yang mempost foto-foto di acara tersebut. Terus, lucu aja kalau postingan saya di instagram nanti pakai baju yang itu-itu aja. Hahaha.. Tentu ga masalah kalau postingannya berjauhan. Kebetulan, undangan pernikahan di bulan november sampai detik ini saja sudah ada 6. Kebayangkan tanggalnya deketan kaya apa? 


Dan sila bayangkan orang-orang golongan pertama? Wkwkwk.. saya tidak pernah melihat teman-teman (perempuan) saya yang ada di golongan pertama mempost foto-foto mereka di setiap undangan pernikahan dengan baju yang sama. Padahal, jadwal kondangan mereka jauh lebih padat dari golongan lainnya.



No comments:

Post a Comment

komentar capruk anda akan muncul setelah dimoderasi admin :)