6/01/2015

June

Aku tak peduli, jika banyak orang yg menafsirkan puisi Hujan di bulan Juni adalah suatu gambaran dari ketidak-mungkinan. Aku pun belum pernah bertanya langsung pada Sapardi tentang hal ini, tapi aku tetap tak peduli. Yang kutahu, sejak beberapa hari lalu, Bandung sore mulai diguyur hujan lagi. Aspal jalanan basah lagi. Bepergian harus sedia sandal jepit lagi. Yang kutahu, hari ini adalah satu Juni. Welcome, June!

Hujan di bulan Juni yg kutahu bercerita tentang hujan yg tabah, bijak dan arif. Aku pun mestinya belajar dari hujan di bulan Juni. Yg mampu merindu dalam diam, mencintai dalam senyap, namun tetap melangkah tanpa ragu. Hujan bulan Juni bagiku adalah harapan, bentuk penantian, perjuangan, kebijaksanaan dalam bersikap, penghargaan, dan kekaguman. Seperti aku yg kagum padanya, menghargainya, menantinya, dan menyapanya dalam doa. Ia yg tak pernah kutemui sebelumnya, tak kukenali rupanya, tak pula kutahu namanya. Tapi tetap saja... Yang kutahu..

"Tak ada yg lebih tabah dari hujan bulan Juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu..
Tak ada yg lebih bijak dari hujan bulan Juni, dihapusnya jejak-jejak kakinya yg ragu-ragu di jalan itu..
Tak ada yg lebih arif dari hujan bulan Juni, dibiarkannya yg tak terucapkan, diserap akar pohon bunga itu.."

No comments:

Post a Comment

komentar capruk anda akan muncul setelah dimoderasi admin :)